PEMASAK GARAM DI ATAPUPU ATAMBUA NTT

Saat saya blusukan di Atambua, saya menyempatkan untuk mampir ke sebuah tempat yang selalu terlewati setiap saya akan mengajar mama-mama di Kelas Tuna Aksara di Kenebibi Atapupu Atambua.

Di pinggir jalan raya di daerah Silawan di area hutan bakau terdapat deretan beberapa gubuk sederhana yang dibangun di sepanjang pinggir jalan perbatasan antara Indonesia – Timor Leste.

Ternyata gubuk-gubuk tersebut adalah tempat beberapa masyarakat sekitar memproduksi garam secara tradisional.

 

Deretan gubug ini dibangun dengan alakadarnya untuk melindungi dari panas matahari dan hujan saat kegiatan memasak  garam.

Aktifitas memasak garam ini  mereka lakukan terutama pada saat musim kemarau ( mulai bulan Juli).

Para nelayan membuat garam dengan “bahan dasarnya adalah lempung atau debu” yang diambil dari areal sekitar pantai di wilayah pasang air laut yang  terjauh.


Areal ini oleh masyarakat biasa dikenal sebagai “ arak”. Pada saat terjadinya pasang yang paling
tinggi (jauh), dimana biasanya air laut sampai ke sekitar areal tanaman bakau,  dan
dekat pemukiman atau jalan
raya. sehingga terdapat
permukaan tanah yang kering dan bisa diambil tanah / debunya.

Setelah dua minggu dari kejadian pasang jauh tersebut,  tanah sekitar areal “arak” tersebut lambat laut menjadi kering.

Pada saat inilah mereka para pembuat garam tradisional mulai melakukan aktifitasnya mengumpulkan tanah dan debu.

Sebelum dimasak, air laut yang diangkut dalam jarak hanya 50 meter dari pondok pembuatan garam itu harus disaring dengan pasir berlumpur, yang diambil dari tanah pantai di sekitar pondok berdinding ranting-ranting pohon jarak.

Tempat penyaringan dibuat semacam bak yang diisi lumpur berpasir di ketinggian dua meter. Lalu air laut, yang tak boleh bercampur dengan air hujan, dituang ke dalam bak.

Di bawah bak, disiapkan tandon penampuang air yang meniris menetes dari atas penyaringan. Air tirisan itulah yang kemudian dipindahkan ke dalam bak di atas tungku untuk dimasak menjadi salah satu bahan utama pemberi rasa asin pada makanan itu.

 


Alat yang digunakan untuk menggaruk tanah adalah tempurung kelapa atau
piring bekas.

Tanah atau debu yang
sudah dikumpulkan, dimasuk ke dalam karung plastik atau langsung dimuat pada gerobak. Selanjutnya tanah tersebut
dibawa ke tempat penyaringan.

Begitulah uniknya…., 

“Tempat / Tikar Penyaringan” tersebut terbuat dari anyaman
daun lontar yang berbentuk kerucut terbalik.

Tikar ini diikatkan pada tiang
penyangga sehingga membentuk
bidang segi empat dan dibawahnya
berbentuk kerucut.

Jarak ujung kerucut dengan permukaan tanah sekitar 0,5 – 1
meter.

Pada dasar tikar ditaruh kerikil
dan juga pasir, kemudian diatasnya
dilapisi dengan karung plastik.

Diatas karung plastik dipasang satu lapisan lagi kerikil dan pasir sebagai media penyaringan. Diatas media penyaring
tersebut, ditaruh debu atau lempung tanah kering.

( duh .., ribet banget yak )

Dibawah tempat penyaringan diletakkan ember atau
bokor (yang berfungsi sebagai tempat penampungan air garam.


Selanjutnya, tanah kering atau debu
tadi, disiram dengan air laut.

Proses penyaringan ini berlangsung selama lebih kurang 1-2 jam.

Tanah dan debu
tersebut digunakan untuk 2 kali proses
penyaringan.

Lalu.., 
Barulah Air hasil penyaringan dipindah ke tempat memasak, yang bisa terbuat dari drum
bekas yang sudah dibelah dua atau yang terbuat dari seng.

Proses perebusan air
tersebut berlangsung sekitar 3 hingga 4 jam untuk satu kali proses perebusan air menjadi garam.

Kayu sebagai bahan bakarnya  diperoleh dari mengambil dihutan sekitar. Dengan cara diangkut. Sempat mama mengeluh.pada saya betapa tenaga mama terkuras   karena lelahnya mengangkut kayu bakar.

Nah…, oke…, 

Garam yang dihasilkan dari proses
perebusan ini sekitar 10-15 kg.

Dalam satu musim, petani garam yang menggunakan bahan baku debu bisa menghasil 1000 Kg atau 20 karung garam.

O ya…,

Terlihat air Rebusan garam yang direbus pertama, masih berwarna coklat 

Namun lama kelamaan, air tadi menjadi jernih dan menguap hingga terbentuklah kristal garam yang berwarna putih.

Dan butiran kristal yang telah matang menjadi kering, lalu di pindahkan dituang kedalam sebuah bokor.

 

Setelah garam dingin dan kering, garam dimasukkan ke dalam sebuah karung plastik. Harga satu karung saat saya tanyakan di hargai 250.000 rupiah.

Sedangkan jika kita akan membeli dalam jumlah lebih sedikit, mereka memberi harga 5.000 rupiah / kantong plastik yang mereka jajakan dengan menggantungkannya pada sebuah tiang kayu.

 

Saya hampiri seorang mama, yang  tak beranjak dari pondok itu untuk menjaga agar api tetap membara.

Duuh…,

Saya ga kuat berlama- lama didalam gubug, katena asap dari pembakaran garam sangat membuat mata menjadi perih.

Dalam hitungan lima atau enam jam mama harus menunggui hingga cairan yang menggelegak itu akan memadat berubah menjadi butiran garam.

 

Begitulah cara orang-orang Atapupu Atambua NTT membuat garam secara tradisional.

Ketika musim hujan, atau hari hujan di musim kemarau, pembuat garam rakyat tak bisa bekerja. Air laut yang bercampur air hujan tak bisa dijadikan garam. “Kalau dipaksakan, hasilnya hanya sedikit dan waktu memasaknya menjadi lebih lama. Kayu bakar habis tapi dapat sedikit garam. Kita rugi banyak,”

 

Akhirnya salah seorang teman saya membeli satu plastik garam untuk dibawa pulang.

Trimakasih mama….

Atas pembelajarannya hari ini.

Betapa tidak mudahnya walau hanya sekedar membuat garam.

Betapa kami-kami yang di kota ini tidak pernah memikirkan bagaimana prosesnya.

Kami hanya tau membeli dan mendapatkannya dengan mudah…

Semoga pemerintah dapat memperhatikan dan memudahkan nasib para petani garam tradisional agar mereka dapat difasilitasi dengan kemudahan untuk meningkatkan produksi dan penjualannya.

 

Trimakasih teman- teman yang sudah membaca.

Monggo tinggalkan jejak…

Suwunnnn….

🙏

 

 

*dari berbagai sumber

PEMASAK GARAM DI ATAPUPU ATAMBUA NTT
Tagged on:                                                 

One thought on “PEMASAK GARAM DI ATAPUPU ATAMBUA NTT

  • 19 April 2019 at 11:50 am
    Permalink

    Hi,

    I’ve been visiting your website a few times and decided to give you some positive feedback because I find it very useful. Well done.

    I was wondering if you as someone with experience of creating a useful website could help me out with my new site by giving some feedback about what I could improve?

    You can find my site by searching for “casino gorilla” in Google (it’s the gorilla themed online casino comparison).

    I would appreciate if you could check it out quickly and tell me what you think.

    casinogorilla.com

    Thank you for help and I wish you a great week!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *