TATO ETNIC SUKU SUMBA NTT

Saat ini saya tengah blusukan di Nusa Tenggara Timur.., tepatnya di Atambua Kabupaten Belu. Sebuah Kabupaten terluar di Indonesia yang berbatasan dengan Timor Leste.

Ditengah kemarau panjang yang sangat kering, saya berencana mengunjungi 12 kelurahan yang ada di seluruh Kabupaten Belu. Namun saat ini baru 4 kelurahan saja. Artinya akan ada banyak cerita lagi tentang saudara-saudara kita di daerah perbatasan.

Salah satunya adalah ini.

Para wanita, mama jaman dahulu yang masih sehat dan bugar walau mereka sudah renta.

Ada kebiasaan adat mereka yaitu menginang (nyirih) dan tato atau rajah.

Menginang baik laki-laki atau perempuan masih dilakukan sampai generasi saat ini. Bahwa menginang,  adalah hal yang wajib ada dan selalu disuguhkan saat ada tamu mengunjungi rumah mereka.

Tentang menginang nanti akan saya ceritakan pada postingan yang lain.

Kali ini saya akan bercerita tentang tato tradisional yang melekat pada wanita NTT, terutama generasi lama atau tua.

Tato yang dimaksudkan di sini yakni tato yang diyakini sebagai warisan nenek moyang yang tumbuh menjadi adat tradisional.

sama seperti Suku Dayak di Kalimantan…
Suku Dayak Kalimantan adalah suku  yang juga sudah mengenal tato sejak jaman dulu tetapi lebih muda daripada Suku Mentawai.

Selain itu ada juga suku-suku di  Bali, NTB, NTT yang juga mengenal dan memakai  tato sebagai salah satu tradisi dalam kehidupan adat istiadatnya Nah..,
Yang saya temui saat itu adalah wanita Suku Sumba dari Nusa Tenggara Timur yang tinggal di Atambua Kabupaten Belu.

Menurut sejarahnya,
Adat-istiadat masyarakat Sumba itu  baik laki-laki atau  perempuan yang sudah beranjak dewasa  (kurang lebih berumur 17 atau 18 tahun), sebelum menikah mereka  harus melaksanakan upacara adat atau ritual pembuatan tato (kamattuka)
Yang dibuat pada lengan  dan pada betis kaki.
Tato (kamattuka) ini dibuat sebagai tanda pengenal.
Menurut kepercayaan orang Sumba,
tato pada badan  adalah tanda untuk memudahkan arwah leluhur untuk melayani segala permintaan anggota keluarga yang masih hidup.

dan konon, pemuda atau pemudi yang melakukan perkawinan tanpa lebih dulu membuat tato,  akan mendapat cemoohan.

Ada waktu-waktu khusus dalam melaksanaan upacara adat tato.
Yakni dilakukan setiap tahunnya  pada waktu bulan sedang  purnama dengan lama pelaksanaanya antara 3 sampai 7 hari.
hmmmh…,
Lama juga ya!

Beberapa corak atau motif tato yang dibuat ada beberapa…, yaitu:

Yang dinamakan Lekota
Lekota adalah  motif tradisional yang ditiru dari gambar motif ukiran yang banyak ditemukan atau  terdapat pada kubur batu.

Kemudian Kerewino
Kerewino sendiri adalah motif atau gambar semacam buah pinang.

Lalu, Mata karabo
Mata Karabo yaitu gambar atau motif mata kerbau, Nah kalau yang ini banyak meniru dari mata kerbau yang banyak dijumpai di Sumba.
Selanjutnya ada gambar -gambar binatang yang lain…
seperti gambar ayam dan kalajengking.

Yang paling banyak digunakan adalah  nama atau inisial
(huruf depan dari nama) yang bersangkutan.
dan tentunya masih banyak lagi gambar atau motif lainnya.

Bagaimana tato dibuat?
Bahan apa saja yang diperlukan?

Ternyata tato dibuat dengan memakai bahan Getah pohon maroto walu.
Getah ini berfungsi sebagai lem atau  perekat warna di permukaan  kulit.

Lalu tato juga menggunakan Arang periuk tanah, arang sabut kelapa atau arang lampu pelita minyak tanah
Ini berfungsi sebagai pewarna dengan warna hitam sebagai warna dominan.

Semuanya dicampur dengan air.

Sebagai pengganti jarumnya, mereka menggunakan Duri tara matoro kalada (duri jeruk lokal)
Duri tersebut fungsinya adalah untuk menusuk kulit yang sudah digambar pola dan dilakukan atau ditusukkan sampai keluar darah.
Hiiiiii…,

Sebagai alkoholnya atau antisepticnya, mereka menggunakan Roosa mala atau umakara.
Yaitu dengan cara diambil daunnya, lalu dikunyah dulu sampai  halus dan lembut  selanjutnya disemburkan pada luka yang terjadi pada proses pentatoan pada lengan, badan atau kaki yang di tato.
Si pembuat  Tato, umumnya adalah bukan orang sembarangan.
biasanya orang yang dianggap mampu dan memiliki keahlian tato (disebut juga dukun).

Oya..,
Selama luka tato belum sembuh,  mereka  tidak diperbolehkan untuk mandi. agar luka cepat kering.

Sebetulnya pembahasan tentang budaya tato di suku Sumba ini sangat panjang.
Tulisan ini saya buat  hanya dengan merangkum sedikit saja dan hasil dari berbincang-bincang dengan salah satu mama-mama di Atambua.

Semoga tulisan yang sedikit ini bisa menjadi tambahan pengetahuan salah satu dari ribuan budaya suku-suku yang ada di Indonesia.

Semoga bermanfaat…
Trimakasih sudah mampir 🙏
Sumber : Varian Wisata Budaya Sunda Kecil:

TATO ETNIC SUKU SUMBA NTT
Tagged on:                                             

One thought on “TATO ETNIC SUKU SUMBA NTT

  • 29 July 2018 at 11:04 am
    Permalink

    Keep setrong N keep sharing ya maak..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *