CATATAN SUKU TOBELO DALAM (2)

Sedikit saya menceritakan bagaimana keberadaan Suku Tobelo Dalam ( Togutil) di pedalaman Halmahera Timur Maluku Utara.

Banyak sumber yang telah mengungkap keberadaan suku ini. Salah satunya saya baca dan kutip dari sebuah Buletin saat saya berada dan tinggal  di desa Dakaino Wasile Timur Maluku Utara.

 

ASAL MULA MASYARAKAT TOBELO DALAM BLOK TAYAWI.

Salah satu anak-anak suku Togutil

Asal mula keberadaan MTD (Masyarakat Tobelo Dalam) sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti. Cukup banyak cerita dan pendapat mengenai asal usul MTD. Ada pendapat yang menuliskan bahwa MTD bermula dari perang antara Bangsa Portugis dan pasukan Alifuru yang memperebutkan rempah rempah yang berada di tanah Maluku.

Awalnya orang Portugis lah yang menguasai perang tersebut, tetapi tidak sampai di situ saja, pasukan Alifuru pun tidak kehabisan akal dengan memakai lebah- lebah sebagai senjata mereka, tidak sedikit orang Portugis yang menjadi korban sengatan lebah lebah itu.

Setelah mengetahui bahwa sengatan lebah membawa korban banyak untuk Portugis, pasukannya langsung menembakkan senjata yang sangat membabi buta sampai pasukan Alifuru mundur, kesempatan ini digunakan orang dari bangsa Portugis yang tersisa langsung melarikan diri dan mereka bermukim di daerah Hum dan kemudian menamakan daerah tersebut Rum yang mengisyaratkan bahwa daerah itu adalah tempat tinggal orang orang yang berasal dari Romawi.

Orang orang Portugis di daerah Hum/Rum tidak dapat tinggal dengan tenang dikarenakan orang orang Galela sering mengusik ketentraman mereka. mereka pun kemudian memilih hijrah ke daerah Tobelo dengan menempati bebukitan Karianga arah selatan daerah Wangongira, Kusuri, Lembah Kao, Batang sungai kali Jodo menuju arah Tetewang.

Sebagian dari mereka menetap dan menyatu dengan masyarakat setempat. Untuk menghilangkan jejak sebagai orang Portugis mereka pun belajar bahasa Tobelo dan berusaha keras menghilangkan aksen bahasanya.

Mereka kemudian hidup bergaul dengan orang Tobelo dan Kao yang pada akhirnya membuat kebanyakan orang Togutil berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Tobelo Boeng dan Module.

Upaya ini dilakukan untuk menghindari kejaran pasukan Ternate dan Alifuru terhadap sisa-sisa orang Portugis di Maluku utara yang lari ke hutan.

Tetapi juga ada cerita bahwa Suku Togutil itu sebenarnya adalah adalah penduduk pesisir yang lari ke hutan karena menghindari pajak.

Pada tahun 1915 pemerintah Belanda memang pernah mengupayakan untuk memukimkan mereka di desa Kusuri dan Tobelamo.

Karena tidak mau membayar pajak, mereka kembali masuk hutan dan upaya itu mengalami kegagalan.

Berdasarkan cerita diatas dapat diketahui bahwa MTD yang mendiami hutan Halmahera di wilayah tertentu bukan merupakan suku asli wilayah tersebut, sebagaimana MTD wilayah Tayawi, mereka bukan merupakan suku asli Tayawi, hal ini bisa dilihat dari bahasa yang mereka gunakan sehari-hari lebih banyak menggunakan bahasa Tobelo dibandingkan bahasa Makian atau bahasa Tidore. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kekerabatan mereka lebih dekat berasal dari daerah Tobelo dari pada Tayawi.

Pertanyaanya kemudian,

“Mengapa mereka bisa sampai di sungai Tayawi?..”

Masyarakat Tobelo Dalam sampai dan mendiami di sekitar sungai Tayawi bermula dari perilaku mereka yang nomaden dalam rangka mencari hewan buruan atau dikarenakan hal lain yang membuat mereka pindah.

Selama berpindah pindah tersebut sampailah mereka di wilayah sungai Tayawi yang memiliki potensi hewan buruan cukup melimpah dan tidak dalam penguasaan suku lain. Berdasarkan pertimbangan tersebut akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal dan membuat permukiman disekitar sungai Tayawi dan kemudian menjadi suku penguasa wilayah Tayawi.

Berdasarkan hubungan kekeluargaan yang ada, anggota MTD sungai Tayawi memiliki hubungan keluarga dengan MTD sungai DODAGA di Halmahera timur.

Abdullati 2009 menuliskan bahwa orang Togutil Dodaga berasal dari dua tempat yaitu ;
1. Daerah Kao, yani dari Biang, Gamlaha, dan Kao sendiri
2. Daerah Tobelo yakni dari Kupa Kupa, Ifa dan Efi Efi.
Dilihat dari bahasa yang digunakan sesuai dengan hasil penelitian, kelihatannya lebih besar pengaruh bahasa Tobelo Boeng terhadap suku ini. Orang Togutil Dodaga sebagian besar berasal dari daerah Kao, mereka hanya menguasai dan mengerti satu bahasa yaitu bahasa Tobelo walaupun mereka sejak lama bertempat tinggal di lingkungan yang mayoritas berbahasa Maba.
Selain berasal dari Dodaga, MTD Tayawi juga ada yang berasal dari wilayah sungai Akejira yang terletak di sebelah timur Tayawi, Halmahera Tengah. Kelompok Akejira dan Tayawi sebelumnya memiliki hubungan kekerabatan, namun dikarenakan ada suatu masalah sehingga sampai saat ini hubungan tersebut menjadi hubungan permusuhan. Kelompok MTD Tayawi tidak bisa melewati wilayah Akejira dan begitu pula sebaliknya permusuhan ini diawali dengan diculiknya perempuan Akejira yang waktu itu sedang melakukan perburuan di wilayah sungai Tayawi. Perempuan itu diculik dan dijadikan istri oleh Kahihi yang merupakan ketua suku MTD wilayah Tayawi.

Setelah beberapa tahun menikah perempuan yang diculik tersebut meminta ijin Kahoho untuk menemui keluarganya di Akejira. Kahoho mengijinkan dan mengantar istrinya pergi menemui keluarganya.

Sampai di Akejira, istrinya tidak mau kembali ke Tayawi bersama Kahoho dan Kahoho diusir paksa oleh MTD wilayah Akejira. Selama proses pengusiran tersebut terjadi pertarungan yang menyebabkan tewasnya 2 orang dari wilayah Akejira. Berawal dari peristiwa tersebut antara MTD Tayawi dan Akejira tidak saling bermusuhan sampai saat ini walaupun dulunya pernah ada hubungan diantara mereka.
MTD Tayawi juga ada yang berasal dari wilayah sekitar yaitu desa Payahe dan Sidanga, hal ini terjadi dikarenakan adanya perkawinan antara MTD dengan penduduk sekitar. Terdapat 4 pasangan yang suami / istrinya bukan merupakan keturunan asli MTD yaitu keluarga Antonius (suami dari Payahe) mishak (istri dari sidaga) lepa (isri dari sidanga) dan dokobus (istri dari sidanga)
Berdasarkan hasil data lapangan di atas dapat disimpulkan ahwa pada dasarnya MTD wilayah tayawi bukan merupakan suku asli wilaah tersebut. Mereka berasal dari wilaah wilayah lain yang kemudian membentuk komunitas baru di wilayah sungai tayawi. Komunitas ini terbentuk karena perilaku mereka yang suka berpindah pindah dan masih menggantungkan terhadap hasil hutan baik hewan atau tumbuhan. Selain itu mereka juga ada yang berasal dari penduduk sekitar. Sidanga dan payahe yang disatukan oleh hubungan perkawinan.

Namun suku Tobelo Dalam yang saya temui kini sudah mulai beranjak modern. Mereka sudah bisa beradaptasi dengan masyarakat lain di sekitar. Beberapa  Anak-anak juga sudah ada yang bersekolah. Dengan adanya bantuan perumahan dari pemerintah bagi mereka, mereka sudah bisa tinggal dengan sedikit layak walaupun masih ada yang sering kembali lagi masuk dan tinggal di hutan.

* Terimakasih sudah membaca…,

Berlanjut ceritanya di sesi Suku Tobelo Dalam ke 3

Rumah Bantuan pemerintah bagi Suku Tobelo Dalam di wilayah Dodaga
CATATAN SUKU TOBELO DALAM (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *