JALAN-JALAN DI KOTA SABANG

Ada aja jalan untuk bisa hunting muteri kota Sabang. Saat selesai mengajari ibu-ibu merajut di beberapa tempat di daerah Pusat kota,  saya di ajak keliling kota Sabang  menikmati sore dan nongkrong di tepi pantai sambil ngopi cantik.

Pagi itu Mba Yulian, tenaga medis yang juga perajut mengajak saya ke beberapa lokasi di Kota Sabang yang memang bisa ditempuh hanya beberapa menit dari satu lokasi ke lokasi  lainnya. Kami di petemukan di facebook. Hebatnya facebook bisa menyatukan kami para  rajuters dari Sabang sampai Merauke. yang tidak tahu menjadi tahu…, yang tidak kenal menjadi kenal hingga terbentuk kekompakan dan persaudaraan.

Sabang memang kota kecil yang hanya terdiri dari 2 kecamatan dan rencana tujuan akhir kami adalah menuju ke monumen Titik Nol Indonesia.

Kuliner,, Sunset…, Tugu Kilometer Nol Sabang…, Pantai…, semua di jelajahi.

Ada hal yang menarik di sana. Semua toko di pusat perdagangan kota pada saat sehabis sholat dzuhur, kompak tutup hingga buka kembali jam 05 sore.
Semua alasannya sama… : TIDUR SIANG !!
wkwkwkkwk
Ga ada satupun yang melanggar kesepakatan. Kompak abisssss !!!!!

Dengan bermotor ria saya diajak kuliner ke sebuah rumah makan paling tekenal di Sabang dengan kelezatannya yang khusus menjual penganan mie. Dengan diawali kesepakatan jika ada panggilan untuk operasi, maka mba Yulian harus pending dulu acara muter Sabangnya hingga operasi selesai. OK.., sip !!
Dan benar saja…,
Saat belum juga selesai makan, tiba-tiba mba Yulian  mendapat telephone dari rekan medis lainnya di RS bahwa ada pasien yang harus di operasi saat itu juga. Maka kamipun buru-buru menyelesaikan makan dan sayapun ikut ke rumah sakit.
(sekalian ikut karena ingin tahu…, penasaran seperti apa rumah sakit di Sabang).
Sambil sedikit berlari kecil berpacu dengan waktu akhirnya kami tiba di Rumah Sakit Sabang.
Langsung menuju Ruang Operasi.

Daaannn…,
Keisengan saya dimulai.
Sambil menunggu mba Yulian dan rekan-rekan mempersiapkan peralatan untuk operasi, saya ijin untuk mencoba ‘merasakan’ bagaimana rasanya memakai kostum para tenaga medis jika berada di ruang operasi 🙂

Ngeri-ngeri linu juga ngliat peralatan operasi  yang harus dibersihkan hingga steril. Tang penjepit berbagai ukuran.., gunting.., pisau dan lain-lain…huuuhhfft
(kebetulan pasien yang akan dioperasi adalah seorang ibu yang akan melahirkan secara caesar karna janin yang dikandung letaknya sungsang).

Akhirnya pasien sudah siap…, alat sudah siap…,  kapas bergulung-gulung siap.., tinggal menunggu dokter datang  yang masih praktek di bagian klinik rumah sakit.
So, saya seru-seruan  jepret sebentar bareng teman-teman medis yang sudah ready.

Sempat saya berbincang sejenak ketika dokter yang di tunggu tiba. Lalu Mba Yulian memperkenalkan saya dengan dokter yang akan mengoperasi. Ngobrol sana-sini sambil pa dokter juga istirahat sejenak sebelum mulai mengopeasi pasien dan sempat bertanya  sedikit  tentang progam Merajut Indonesia di Sabang.

Tenyata sambil menyiapkan ini dan itu mba Yulian mengontak kawannya untuk bisa menggantikan dengan alasan ada tamu 🙂
Betapa sok penting bangeut ya saya…hhh

Tak lama, teman pengganti mba Yulian datang untuk menggantikan tugas mba Yulian, dan Pa dokter mulai masuk ruang operasi,
Lalu kita kabur jalan-jalan ya mba 🙂 )

Titik Noooooll !

 

So., acara selanjutnya adalah muter kota Sabang.
Kali ini saya jepre

https://www.facebook.com/media/set/?set=a.502656306744574.1073741915.259177491092458&type=1&l=3106d7155d

t suasana koa Sabang yang sepi dan seng  ada macet 🙂

 

Sedikit saya baca sejarah kota Sabang yang saya kutip dari Wikipedia

Kota Sabang sebelum Perang Dunia II adalah kota pelabuhan terpenting dibandingkan Temasek (sekarang Singapura).

Sabang telah dikenal luas sebagai pelabuhan alam bernama Kolen Station oleh pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1881. Pada tahun 1887, Firma Delange dibantu Sabang Haven memperoleh kewenangan menambah, membangun fasilitas dan sarana penunjang pelabuhan. Era pelabuhan bebas di Sabang dimulai pada tahun 1895, dikenal dengan istilah vrij haven dan dikelola Maatschaappij Zeehaven en Kolen Station yang selanjutnya dikenal dengan nama Sabang Maatschaappij. Perang Dunia II ikut memengaruhi kondisi Sabang dimana pada tahun 1942 Sabang diduduki pasukan Jepang, kemudian dibom pesawat Sekutu dan mengalami kerusakan fisik hingga kemudian terpaksa ditutup.

Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, Sabang menjadi pusat pertahanan Angkatan Laut Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan wewenang penuh dari pemerintah melalui Keputusan Menteri Pertahanan RIS Nomor 9/MP/50. Semua aset pelabuhan Sabang Maatschaappij dibeli Pemerintah Indonesia. Kemudian pada tahun 1965 dibentuk pemerintahan Kotapraja Sabang berdasarkan UU No 10/1965 dan dirintisnya gagasan awal untuk membuka kembali sebagai Pelabuhan Bebas dan Kawasan Perdagangan Bebas.

Gagasan itu kemudian diwujudkan dan diperkuat dengan terbitnya UU No 3/1970 tentang Perdagangan Bebas Sabang dan UU No 4/1970 tentang ditetapkannya Sabang sebagai Daerah Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Dan atas alasan pembukaan Pulau Batam sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Sabang terpaksa dimatikan berdasarkan UU No 10/1985. Kemudian pada tahun 1993 dibentuk Kerja Sama Ekonomi Regional IndonesiaMalaysiaThailand Growth Triangle (IMT-GT) yang membuat Sabang sangat strategis dalam pengembangan ekonomi di kawasan Asia Selatan.

Pada tahun 1997 di Pantai Gapang, Sabang, berlangsung Jambore Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) yang diprakarsai BPPT dengan fokus kajian ingin mengembangkan kembali Sabang. Disusul kemudian pada tahun 1998 Kota Sabang dan Kecamatan Pulo Aceh dijadikan sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) yang bersama-sama KAPET lainnya, diresmikan oleh Presiden BJ Habibie dengan Keppes No. 171 tahun 1998 pada tanggal 28 September 1998.

Era baru untuk Sabang, ketika pada tahun 2000 terjadi Pencanangan Sabang sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas oleh Presiden KH. Abdurrahman Wahid di Sabang dengan diterbitkannya Inpres No. 2 tahun 2000 pada tanggal 22 Januari 2000. Dan kemudian diterbitkannya Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang No. 2 tahun 2000 tanggal 1 September 2000 selanjutnya disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang.

Aktivitas Pelabuhan Bebas dan Perdagangan Bebas Sabang pada tahun 2002 mulai berdenyut dengan masuknya barang-barang dari luar negeri ke kawasan Sabang. Tetapi pada tahun 2004 aktivitas ini terhenti karena Aceh ditetapkan sebagai Daerah Darurat Militer

SUMBER : WIKIPEDIA

 

 

Save

Save

Save

Save

JALAN-JALAN DI KOTA SABANG
Tagged on:                             

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *