SUKA DUKA BLUSUKAN @MERBABU

Banyak  cerita yang belum terungkap  di balik petualangan  ‘ngresek’ di berbagai daerah di pelosok Indonesia.
Tidak selamanya perjalanan blusukan lancar.., enak…, dan nyaman.
Namun justru di situlah serunya. Blusukan kalau nyaman namanya piknik bu.`
Orang mungkin berfikir.., ‘ngapain sih Ncie…, mau-mauan blusukan …, nyusahin diri aja…!’ mending ngerajut dan berkarya dari rumah.

Hyesss.., we are different mas bro.
This is my choice. Saya memang tidak  mengira kalau perjalanan bisa sampai dan seperti ini hingga rela mengorbankan melepas pekerjaan mengabdi pada negara. Saya hanya menjalani dan mengikuti alur hidup yang sudah di tentukan oleh Nya sambil berusaha untuk bisa tetap struggle bertahan dalam kesusahan.
Yakin ini adalah sudah yang terbaik. Yakin di ujung setiap kesulitan pasti ada kebahagiaan.
Dinikmati aja..

Cerita kali ini tentang bagaimana bisa bertahan satu bulan tinggal di lereng timur Gunung Merbabu dengan cuaca badai angin yang ekstrim saat itu.

Sepulang mengikuti kegiatan Kongres Sungai Indonesia II di waduk Selorejo Ngantang Kabupaten Malang Jawa Timur, saya pulang dengan ikut dalam rombongan relawan Merbabu. Memang sebelumnya saya sudah kontak-kontak dengan salah satu mas relawan Merbabu (Mas Mbilung) dan beliau  sepakat untuk mengundang saya blusukan mengajari ibu-ibu di Lereng Merbabu untuk ngresek.
Deal !
Dengan itu Mas Mbilung menitipkan saya di Base camp nya para relawan Merbabu untuk stay.
It’s ok.., ga masalah.
Bagi saya petualangan baru pasti lebih seru. dan saya bisa mengenang kembali saat-saat menjadi pramuka jaman sekolah dulu.

——————————

 

Di Base camp Tidur di lantai dengan hanya beralaskan tikar dilapis spanduk .
Ga  masalah juga buat saya. Malah bersyukur sudah diberi tumpangan untuk tinggal.
nunut urip’ kata orang Jawa.  Alhamdulillah….

3 malam di awal, saya susah buat tidur. Dingin nylekit luar biasa. Baju di badan sudah 4 lapis. Kaos dua lapis.., kemeja.., jaket…, semua ga cukup bikin badan jadi anget.  huuffh..,
Body tipis yang ga punya lemak menambah dingin nyampe  ke tulang. Gigi   otomatis nggeter  sendiri 🙂 klutuk-klutuk kemlutuk ga nyadar. .. ternyata saat itu memang sedang musim badai angin di puncak Merbabu.

Panteeeesss….

wislah…, penyiksaan banget pokokna . Adaptasi yang amat sangat  berat.
Ngga brani ngrubah posisi tidur,  Ujung kaki yang kaku kedinginan, pucuk idung yang kebas juga karna dingin ekstrim, mana posisi tidur  badan  kudu ngrengkol dan harus nahan (maaf) buang air kecil. Karna ngga kuat dengan air nya yang kayak air kulkas di rumah 🙂 dan letak kamar mandi yang jauhdi luar sana .
Ga brani banyak minum juga. Karna  tau sendiri kan.., dimana dingin, di situlah terpancing 🙂

Tersiksa judulnya. Kurang tidur dah pasti iya. Kaos kaki ga mempan. Masih ada rongga pori-pori kaos yang bisa bikin angin masuk. Sampai akhirnya saya temukan jurus jitu untuk sedikit melindungi kaki dari udara dingin yang menusuk.

KRESEK !

———————————-

 

 

Ya.., kresek..,
Kebetulan saat itu saya sedang ngggarap rajutan tas dari kantong kresek. Lumayanlah bisa bikin kaki jadi terlindungi dari udara. Saya iket kresek kenceng-kenceng  ke kaki. Bener-bener rapet pet.., sampai pagi-paginya pas bangun tidur, saat kresek dibuka kakinya basah panas berkeringat.

Tapi sejak malam itu saya bisa tidur nyenyak.
Hanya ga lucunya, saat terbangun malam buat jalan ke wc yang jauh di luar rumah,
Duuh..,
itu kresek dipake jalan brisik !!
Krasak-krusuk bunyi 🙂 sementara suasana rumah sepi beud.

Beginilah penampakannya 🙂

Bener-bener pengalaman yang luar biasa.
Satu bulan  tinggal di Lereng Merbabu, saya ingat.., hanya 3 kali mandi kkhhh
dan itupun di siang hari bolong 🙂 selain itu hanya pas photo !
Biarlah.., biarkan parfum isi ulang murah itu yang menutupi aib saya 🙂

Saya memang diberi selimut tipis oleh Bapak ibu. Tapi untuk size body saya yang tipis ini, lebih pas kalau saya pakai untuk alas tidur. Supaya tulang ga langsung kebledug kena lantai 🙂
Brrrrrrrrrrrrr . . . . . .

——————————

 

Di base camp, satu-satunya tempat favorit saya untuk siduru menghangatkan kaki adalah dapur ibu.  Dapur sederhana jaman baheula yang masih dipertahankan walaupun ada kompor gas. Masyarakat di sana memang lebih menyukai memasak dengan menggunakan kayu bakar yang mereka ambil dari patahan kayu ranting pohon di hutan dibandingkan dengan menggunakan kompor.

‘Lebih bisa sekalian menghangatkan ruangan’  katanya

Iya sih Bu…, Tapi lubang idung saya jadi item nih ! ( karna letak tempat saya tidur memang di dapur ) satu ruangan dengan tungku.

Aaahhh…, cerita lucu ! Kangen rasanya ingin menikmati suasana itu lagi yang belum tentu bisa terulang.

——————————

 

Ada satu desa yang harus saya datangi untuk mengajarkan ibu-ibu di sana mengolah kantong kresek.
Letaknya lebih jauh ke atas dari base camp tempat saya tinggal.
Desa Ngguwolelo Desa tertinggi di wilayah lereng Timur Merbabu. Desa yang harus di tempuh dengan berjalan kaki kurang lebih 3 kilo dengan tanjakan yang curam. Bisa sih.., bermotor ria, tapi saya takut motor ngga kuat nanjak dan  mundur lagi 🙂

Dan saya selalu tertinggal jauh di belakang dibanding mas-mas relawan yang sudah biasa naik turun gunung dan memang tinggal di sana.

Harap maklum pula .., ini dengkul dah  hampir setengah abad dipake jalan.
Padahal setiap nafas dah nyesek sampe ke tenggorokan,  saya usahakan brenti dah diakali juga  jalan sambil mundur supaya ga terlalu berat tapi tetep aja paha panas mas brow .

Alhamdulillah.., akhirnya sampai juga dengan selamat sejahtera dan sentausa 🙂 walau nafas ngek-ngekan berpacu dengan deguban jantung yang  ngadurugdug laju ga kekontrol. 🙂

slameeeeetttt…,slamettt… ga minta gendong.

——————————-

 

Terkadang di jalan saya ketemu sama bapak-bapak yang sedang kerja bakti mengerjakan proyek jalan desa
Saya berhenti pura-pura tanya ini itu sok akrab, satu alasan :
Hanya untuk ngumpulin nafas !.  wkwkwk modus banget lah

Paaaak.., Cekrek dulu yaaahhh . . .
(bari cingogo) jongkok ndhodho’

———————————

 

Pemandangan Merbabu di depan mata memang cantik. Perjalanan jadi ga terasa. Apalagi sesampainya di atas ibu-ibu dah nunggu untuk belajar merajut.
Hilang semua rasa ngek-ngekan tadi.

Menurut informasi Mas-mas relawan .., Jarak dari desa tertinggi ke puncak Merbabu hanya 3  sampai 4 jam berjalan kaki ( melalui jalur ekstrim )
Jika melewati jalur landai bisa 4 sampai 6 jam karena memutar melewati padang  safana.

Subhannallah…, indahnya Merbabu….

——————————

 

 

Di sela-sela kegiatan belajar merajut kresek, saya jalan keluar melihat sekeliling rumah.
Saat saya berdiri di belakang rumah ibu tempat belajar merajut, maka pemandangan yang nampak di depan mata adalah puncak Gunung Merapi di seberang sana yang mengepulkan asap membumbung tinggi ke angkasa.

Gunung Merapi dan Merbabu memang berdekatan, berdampingan,  tetanggaan 🙂
Kliatannya  sih deket yak !

Berulang-ulang hanya terucap : Subhannallah Ciptaan Mu ya Rob. ….
Sambil tak bosan memandang.

Duuuhhh…, rasanya dah pingin nyebrang

——————————–

 

 

Suatu hari saya berkesempatan blusukan ke daerah Selo.., Desa di Lereng Gunung Merapi.
Pemandangan di sana pun sama indahnya, namun terbalik.

Sama seperti saat saya melihat Merapi dari arah Gunung Merbabu, yang terlihat adalah Puncak Merapi dan saat saya berada di Ketinggian Gunung  Merapi, saya lihat puncak nya Merbabu.

Beruntungnya saya…, bisa menikmati indahnya dua gunung ciptaan Mu.
Allah SWT  itu its amazing.

Cerita masih panjang, namun harus saya akhiri sampai di sini.

Banyak hikmah dan pelajaran hidup yang saya dapatkan  dari blusukan.

Bukan berarti saya ingin mengekspose atau mengeluh tentang  kesusahan, tapi ini hanya sekedar  berbagi cerita dan pengalaman serunya blusukan Merajut Indonesia melalui kresek.

Keep fight, Keep smile, Keep strong, and Keep pray

see u

 

 

SUKA DUKA BLUSUKAN @MERBABU
Tagged on:                                                                         

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *